Tag Archive: cerpen


ini hanya kekagumanku padamu

Ini hanya sebuah kekaguman, bukan cinta. Kalau ditanya apa bedanya? Jelas berbeda, hatiku telah mengkotakkan dua kata, dua rasa itu dalam ruang berbeda.

Aku lupa sejak kapan aku mulai mengagumimu, mungkin sejak pertama aku melihatmu. Masih terekam jelas dalam ingatanku, karena temanku kita berkenalan. Perkenalan yang cukup aneh, tanpa jabat tangan, tanpa sepatah kata, hanya senyum. Sudah. Kemudian berlalu. Temankulah yang dengan sibuknya memperkenalkanmu. Menyebutkan nama kita berdua.

Kamu tidak tampan. Ngg… Paling tidak, tampan menurut definisi kebanyakan orang. Aku tau tampan itu relatif, tapi bukankah jika aku bilang kamu berhidung mancung, kulit putih, tinggi atletis, orang akan menganggap kamu tampan? Dan, kamu jauh dari definisi itu.

Hari2 berikutnya setelah perkenalan itu aku lewati seperti biasa. Kecuali temanku yang juga sahabatmu itu dengan ceriwisnya menceritakan semua tentangmu, segalanya. Denyut kehidupanmu sudah mengalir dalam nadiku, padahal kita tak pernah bicara.
Puah!! Aku baru sadar, kita tak pernah benar2 saling berbicara. Hanya sebentuk senyum jika kebetulan kita berpapasan, atau jika aku sedikit beruntung, aku bisa mendengar suaramu menyapa namaku, hanya itu, tak pernah lebih. Bahkan aku sedikit takjub ketika ternyata kamu masih mengenaliku, mengingat namaku.

Saat itu, kesempatan pertamaku -setelah sekian lama kita berkenalan- Continue reading

Advertisements

Keping2 yang berserakan dan tinggal menunggu saatnya tersapu angin untuk selanjutnya dilupakan itu tiba2 terkumpul kembali menjadi sebuah film pendek yang berputar dengan lambat, melayang2 di otakku. Tiba2 saja dadaku terasa sesak mengingat kepingan2 itu, tanpa terasa air mata mengalir dari sudut mataku. Tidak mungkin! Aku menangis?!

*#*#*#

Jika semua teori itu sesuai dengan prakteknya, seharusnya mudah saja bagiku menerima semua ini. Membiarkannya berlalu, membiarkannya berbuat yang terbaik menurutnya, dan membiarkan dia berbahagia dengan kekasihnya, kemudian aku juga bersenang2 dengan kehidupanku, menganggap tak pernah mengenalnya. Namun ternyata tak semudah itu, perasaan kecewa, menyesal, amarah, dan kadang kesan lucu, selalu menari2 di benakku jika memory itu terputar kembali. Teringat akan sosoknya yang periang, selalu membuatku tertawa, dan menangis tentunya -tanpa dia ketahui secara langsung-. Dia seperti candu, melihat tulisan2nya tercetak di inbox handphoneku saja sudah membuatku merasa lebih baik, merasa hidup. Apa lagi jika mendengarkan tawanya, suaranya yang khas, suara berat yang terkesan aneh di telinga orang yang belum terbiasa mendengarnya.

%*%*%*

“Tita! Kamu mendengarku kan?!” seru suara di sampingku, aku melamun…
Namaku Titania, terinspirasi dari nama satelit di planet saturnus. Ah sebenarnya tidak penting aku menceritakan asal usul namaku, karena pasti membutuhkan beberapa halaman untuk menjabarkanya, yang perlu kamu ketahui hanyalah, panggilanku, Tita!

*#*#*#

Orang bilang aku aneh, dan menjadi lebih aneh sejak aku mengenalnya Continue reading