Category: story


Dulu, aku hanya bisa tau namamu dibicarakan orang
Dan aku pun menjadi penasaran serta bertanya-tanya
“yang mana sih orangnya?”
Hingga aku bisa melihatmu secara nyata

Sekian lama mengenalmu,
Hanya beberapa kali melihatmu,
Sampai akhirnya hari berganti bulan,
Dan bulanpun terus berganti….

Aku menjadi ingin bisa lebih dekat denganmu,
Mengenalmu.
Tak hanya melihatmu dari jauh,
Berkata “hai” dan kau tersenyum
Akan membuatku girang setengah mati…

Tahunpun berganti,
Keadaan tetap sama
Kecuali obrolan-obrolan kecil denganmu
Yang dulu hanya aku anggap mimpi
Kini bisa aku rasakan,
Kehadiranmu menjadi lebih nyata dalam hidupku

Senyum simpulmu tersungging dari bibir tipis itu
Mengalunkan nada-nada indah di telingaku
Bagai alunan syahdu
Ohh… aku terbuai…

Tak terasa masa-masa kebersamaan formal kita
tinggal menghitung bulan
entah apa yang akan terjadi setelah itu
aku tak tahu
yang aku tahu, saat ini
aku harus memanfaatkan sisa waktuku
untuk bisa mengenalmu lebih
bahkan jika mungkin
bisa memenangkan hatimu

keadaan tetaplah sama
hanya perubahan-perubahan kecil tak berarti
antara kau dan aku

aku masih terlalu takut berharap lebih
bahkan aku mulai mencoba untuk menghapusmu
menghapus jejakmu dari hidupku

adalah saat terberatku
dimana kamu ada,
namun aku memaksakan diri
untuk menganggapmu tak ada

dan di saat terberatku itu
kamu berbalik arah
menjadi sedikit, hanya sedikit
memperhatikanku
sedikit menganggapku lebih
dari sekedar yang pernah aku harapkan

kau buyarkan semua tekadku
untuk melupakanmu
kau tata kembali jejakmu
yang telah pudar dari hatiku

jangan lakukan itu sayang,
jika yang kau beri untukku
hanyalah harapan semu
sungguh, itu hanya akan lebih menyiksa diriku….

Sayup-sayup terdengar alunan lagu dari Iwan Fals ”Ijinkan Aku Menyayangimu” di Radio favoritku membuatku terhanyut ke dalam lamunan masa silam. Aku tidak begitu mengingat, sejak kapan aku mulai mengagumimu, mungkin jauh sebelum aku bisa melihat wujudmu secara langsung. Aku hanya bisa mewujudkanmu di dalam imajinasiku, kata orang kamu begini, kata orang kamu begitu. Aihh… aku semakin penasaran saja denganmu. Saat itu aku masih mahasiswa baru.

“Andai kau ijinkan
Walau sekejap memandang
Kubuktikan kepadamu
Aku memiliki rasa…..”


Hingga suatu saat aku bisa menemukanmu dalam wujud yang nyata. Masih terekam jelas di dalam ingatanku, karena temanku kita berkenalan. Perkenalan yang tidak biasa, tanpa jabat tangan, tanpa sepatah kata, hanya senyuman. Sudah, kemudian berlalu.
Kamu tidak tampan. Nnggg…. paling tidak tampan menurut definisi kebanyakan orang. Aku tau tampan itu relatif. Namun, bukankah jika aku bilang kamu berhidung mancung, berkulit putih dan tinggi atletis maka orang-orang akan menganggap kamu tampan? Dan kamu jauh dari definisi itu.

Hari-hari berikutnya setelah perkenalan itu, aku lewati seperti biasa. Kecuali temanku yang juga sahabatmu itu, selalu saja menceritakan tentang dirimu tanpa aku minta, segalanya. Denyut kehidupanmu sudah mengalir di dalam nadiku, padahal kita tak pernah saling bicara. Puah!! Aku baru sadar, kita tak pernah benar-benar saling bicara. Hanya sebentuk senyum jika kebetulan kita berpapasan, atau jika aku sedikit beruntung, aku bisa mendengar suara beratmu menyapa namaku, hanya itu, tak pernah lebih. Bahkan aku sedikit takjub ketika ternyata kamu masih mengenaliku, mengingat namaku.

Saat itu, kesempatan pertamaku setelah sekian lama kita berkenalan, kamu menjadi asistenku. Akhirnya aku bisa mendengarkan kamu berbicara lebih lama dari biasanya yang hanya menyerukan namaku. Duuhhhh…. demi mendengar suaramu itu, aku seperti kehilangan separuh isi otakku. Seperti tersiram aspal panas, aku meleleh, lalu membeku. Sangat berbeda dari biasanya aku, yang selalu ceriwis.
Aku selalu meyakinkan diriku sendiri, bahwa ini hanyalah kekaguman, bukan cinta. Aku tak menyangka suaramu semerdu itu, bahasamu sehalus itu, sikapmu sesopan itu, kalau orang bilang, (n)Jawa-ni. Kamu terus membicarakan ini itu sambil mengulum senyum, manisss sekali. Dan aku? Jangan tanyakan bagaimana keadaanku saat itu. Bahkan keledaipun akan terlihat lebih pandai dariku. Aku terbius pesonamu.

Ritme hidupku berganti, aku tak lagi sering berpapasan denganmu, di jalan, di tangga, di depan kelas, ataupun di taman tempat kamu biasa duduk. Kamu seperti hilang di telan bumi. Namun aku masih bisa merasakan denyut kehidupanmu. Lagi-lagi karena temanku yang juga sahabatmu itu, tiada henti dia bercerita tentangmu. Kamu yang suka ini, kamu yang suka itu. Kamu yang benci ini kamu yang benci itu. Kamu yang tadi begini, kamu yang tadi begitu. Sudah seperti diary hidupmu saja. Membuatku semakin hafal semua tentangmu.

“Cinta yang ku pendam
Tak sempat aku nyatakan
Karena kau t’lah memilih
Menutup pintu hatimu”

Dari temanku itu pula aku tahu, gadis mana saja yang sedang mengambil hatimu. Dan anehnya, tidak ada sedikitpun rasa cemburu. Tak seperti terakhir saat aku patah hati, depresi, murung, banyak melamun, dan labil. Ah, aku berlebihan.
Tapi denganmu beda, kamu tau? Bukan karena hatiku tidak berdebar-debar saat sebentar saja aku melihatmu. Bukan, bukan itu. Jantungku seperti ingin meloncat, aku berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil mendapatkan mainan baru, garis bibirku tertarik tanpa sebab, menyunggingkan senyum, reflek aku memeluk apa saja yang bisa aku peluk, saking bahagianya. Aku ingin semua yang ada di sekitarku merasakan aroma bahagiamu juga. Kamu selalu sukses menaikkan moodku ke level tertinggi. Dopping. Namun entah mengapa aku tak berhasrat memilikimu. Kamu-dekat-namun-tak-terjangkau. Hanya cukup untuk dikagumi. Titik.

Terakhir aku dengar gadismu baru. Cantik. Ah, semakin kecil saja aku di matamu. Tapi tak mengapa, bukankah dari awal sudah aku tekadkan, aku hanya mengagumimu? Melihatmu saja aku sudah senang, apalagi mendapat sepotong senyummu itu, membuatku melayang.

“Ijinkan aku membuktikan
Inilah kesungguhan rasa
Ijinkan aku menyayangimu

Sayangku, ohhh…
dengarkanlah isi hatiku
Cintaku, ohhh…
dengarkanlah isi hatiku

Aku sayang padamu….
Ijinkan aku membuktikan….”

Seiring berakhirnya lagu itu diputar, aku kembali tersadar dari lamunanku tentangmu.

Dulu aku berfikir, kamu itu, dekat-namun-tak-terjangkau, hanya cukup untuk dikagumi. Sepertinya saat ini aku harus merevisi kata-kata itu, menjadi: kamu-dekat-dan-terjangkau-dalam-batasan-tertentu. Kalau kata orang Bule, one step closer.

Awalnya aku sudah ingin menyerah saja untuk mengharapkanmu, hingga suatu kali, aku melihat namamu mengisi inbox di handphoneku untuk pertama kalinya. Membuatku melayang. Pesan yang sangat biasa, walaupun tidak singkat. Hanya undangan seminar kelulusanmu. Harusnya kamu tak melakukan ini, jika tak ingin memberi harapan kepadaku dan merusak perasaan gadismu. Mungkin ini hal biasa bagimu, namun, gadis mana yang tak bahagia mendapatkan itu? Apalagi jika tau hanya dirinyalah yang mendapat undangan langsung.

Mulai saat itu, kau dan aku, kita, menjadi lebih dekat. Dekat dalam konteks yang lagi-lagi berbeda dengan definisi orang lain. Yang aku katakan dekat di sini, hanyalah kita yang mengobrol langsung, lebih lama dan dua arah. Tak banyak kata-kata yang kamu ucapkan dalam setiap obrolan kita. Selain kamu yang memang pendiam, juga karena aku yang entah mengapa kehilangan setiap kataku jika berhadapan denganmu. Salting, salah tingkah. Namun percayalah, semua perkataanmu terpatri dan melekat erat di dalam otakku, detil, tak terlewatkan.

Kau tak hanya inti, dimana kau selalu menarikku untuk mendekat, karena ada dan tak ada wujudmu pun, aku tetap selalu memikirkanmu, tertarik padamu.

Kisahmu bagiku, seperti potongan-potongan film yang tiada berujung. Entah butuh berapa juta roll film saja untuk mengisahkan kisah hidupku tentangmu. Hmmm… kalau tiga setengah tahun masih bisa dibilang sebentar, tak membuat kau tak memiliki cerita tersendiri dalam hidupku. Kau, sumber inspirasiku. Karenamu, aku selalu bersemangat mengerjakan tugas akhirku agar dapat berwisuda bersama denganmu. Jika aku merasa lelah, aku ingat untuk dapat memakai toga bersamamu. Jika aku merasa malas, aku ingat akan bersama-sama duduk di podium bersamamu di hari kelulusan kita nanti. Jika aku ingin menyerah, aku selalu ingat kau yang pandai, dan aku akan malu jika tak mampu mengimbangimu saat nama kita sama-sama tertera di dalam buku alumni. September, empat bulan lagi! 

(sebuah catatan untuk AAYB, dalam Swaragama Writing Competition “soundtrack of your life”)

Tentang dia…

Sejak pertama kali mengenalnya, 2.5 tahun yang lalu….
Sejak itu pula aku hanya bisa melihatnya, menikmati senyumnya secara sembunyi-sembunyi untuk diriku sendiri. Tak sekalipun dia mengetahui sesuatu didalam dirinya telah tercuri, senyumnya, bayangannya. Hanya itu, namun aku tak pernah mampu mencuri hatinya.
Hingga kini, dengan ketidaksadarannya, dia masih tetap ada di sana, terkadang jauh, terkadang dekat, namun tetap tak dapat terjangkau.

Senyum, sapa, berlalu. Tak sekalipun melebihi itu. Dan aku juga tidak terlalu berharap dia melakukannya. Mustahil kalau kataku. Siapa sih aku ini? Hanya satu diantara banyak orang yang mengaguminya. Sang idola tak punya cukup waktu untuk memperhatikan orangorang di sekitarnya bukan?

Dan hari ini, seolah dunia sedang sangat baik padaku. Dia melihatku! Sesuatu hal yang sangat mahal harganya untukku.
Duduk berdua bersamanya di bangku panjang itu cukup membuatku melayang.
Jangan bayangkan adegan romantis seperti dalam dramadrama, dimana seorang pria dan wanita duduk berdekatan di sebuah bangku, berhadaphadapan dan saling memandang penuh kasih. Tak ada adegan seperti itu. Ini hanya percakapan biasa yang bagiku sangaaaaat luar biasa. Melihatnya berbicara dengan gayanya yang khas, berbicara sambil mengulum senyum, selalu seperti itu. Aku selalu saja meleleh dibuatnya.
Beruntung kebodohan dahulu tak terulang, aku sudah mampu berbicara dengannya, tidak hanya membisu saking terpesonanya.

Terlalu banyak yang dia berikan padaku hari ini. Cukup untuk mencharge kebahagiaanku sepuluh kali lipat dari biasanya. Semoga ini pertanda baik.

Seize the day

Hari ini merupakan hari yang cukup melelahkan, pertama aku mesti ke karanganyar buat identifikasi gulma praktikum PHT, habis dzuhur, kuliah fisben yang dengan tiba2 kuis, Oh God! I can’t imagine the result of that quiz. Terakhir praktikum perkebunan, di situ aQ n temen2 nanem kakao yang uda dibibitin 2 bulan-an yang lalu
Alhamdulillah, bibit kelompokQ cukup bagus, jadi bisa dilepas di lapang.
Sesuai yang diinstruksikan dari coass, kelompokQ nanem 4pohon, huah!
Dodolnya, ga ada yang bawa cangkul, akhirnya sambil nunggu anak2 cowo ngambil cangkul, cewe2 bikin lubang pake ajir yang ada, ukurannya 40x40x20 cm, lumayan mantep lah buat olahraga, hufh!
Tp lumayanlah, sambil nunggu dapet 1lubang tanem, seneng banget deh 🙂

Kira2 jam 5, praktikum selesai, aku berdoa smoga tanaman kakao yang aQ tanem numbuh dgn baek, biar kelak terlihat hasilnya *walaupun entah kapan bakal berbuah…
Habis itu, sempet nongkrong2 bentar di BBC (bawah biola cantik) *tempat nongkrong favorit CANOPI’ERS selaen di hotspot area gd B. Continue reading

ini hanya kekagumanku padamu

Ini hanya sebuah kekaguman, bukan cinta. Kalau ditanya apa bedanya? Jelas berbeda, hatiku telah mengkotakkan dua kata, dua rasa itu dalam ruang berbeda.

Aku lupa sejak kapan aku mulai mengagumimu, mungkin sejak pertama aku melihatmu. Masih terekam jelas dalam ingatanku, karena temanku kita berkenalan. Perkenalan yang cukup aneh, tanpa jabat tangan, tanpa sepatah kata, hanya senyum. Sudah. Kemudian berlalu. Temankulah yang dengan sibuknya memperkenalkanmu. Menyebutkan nama kita berdua.

Kamu tidak tampan. Ngg… Paling tidak, tampan menurut definisi kebanyakan orang. Aku tau tampan itu relatif, tapi bukankah jika aku bilang kamu berhidung mancung, kulit putih, tinggi atletis, orang akan menganggap kamu tampan? Dan, kamu jauh dari definisi itu.

Hari2 berikutnya setelah perkenalan itu aku lewati seperti biasa. Kecuali temanku yang juga sahabatmu itu dengan ceriwisnya menceritakan semua tentangmu, segalanya. Denyut kehidupanmu sudah mengalir dalam nadiku, padahal kita tak pernah bicara.
Puah!! Aku baru sadar, kita tak pernah benar2 saling berbicara. Hanya sebentuk senyum jika kebetulan kita berpapasan, atau jika aku sedikit beruntung, aku bisa mendengar suaramu menyapa namaku, hanya itu, tak pernah lebih. Bahkan aku sedikit takjub ketika ternyata kamu masih mengenaliku, mengingat namaku.

Saat itu, kesempatan pertamaku -setelah sekian lama kita berkenalan- Continue reading

Keping2 yang berserakan dan tinggal menunggu saatnya tersapu angin untuk selanjutnya dilupakan itu tiba2 terkumpul kembali menjadi sebuah film pendek yang berputar dengan lambat, melayang2 di otakku. Tiba2 saja dadaku terasa sesak mengingat kepingan2 itu, tanpa terasa air mata mengalir dari sudut mataku. Tidak mungkin! Aku menangis?!

*#*#*#

Jika semua teori itu sesuai dengan prakteknya, seharusnya mudah saja bagiku menerima semua ini. Membiarkannya berlalu, membiarkannya berbuat yang terbaik menurutnya, dan membiarkan dia berbahagia dengan kekasihnya, kemudian aku juga bersenang2 dengan kehidupanku, menganggap tak pernah mengenalnya. Namun ternyata tak semudah itu, perasaan kecewa, menyesal, amarah, dan kadang kesan lucu, selalu menari2 di benakku jika memory itu terputar kembali. Teringat akan sosoknya yang periang, selalu membuatku tertawa, dan menangis tentunya -tanpa dia ketahui secara langsung-. Dia seperti candu, melihat tulisan2nya tercetak di inbox handphoneku saja sudah membuatku merasa lebih baik, merasa hidup. Apa lagi jika mendengarkan tawanya, suaranya yang khas, suara berat yang terkesan aneh di telinga orang yang belum terbiasa mendengarnya.

%*%*%*

“Tita! Kamu mendengarku kan?!” seru suara di sampingku, aku melamun…
Namaku Titania, terinspirasi dari nama satelit di planet saturnus. Ah sebenarnya tidak penting aku menceritakan asal usul namaku, karena pasti membutuhkan beberapa halaman untuk menjabarkanya, yang perlu kamu ketahui hanyalah, panggilanku, Tita!

*#*#*#

Orang bilang aku aneh, dan menjadi lebih aneh sejak aku mengenalnya Continue reading

Aq selalu bersemangat, saat aq bisa mengulang dan terus mengulang, menceritakan kisah yg pernah kita lalui, hingga terkadang aku tak menghiraukan apakah mereka bosan mendengar kisahku tentangmu yg melulu seperti itu…

Di saat pesan2 singkat lain terhapus dari inbox di handphoneku, tahukah kamu, barisan kata2mu masih tersimpan rapi di sudut terbawah, terdesak oleh waktu…

Di saat playlistku berganti dengan lagu2 yg sedang hits saat ini, tahukah kamu, lagu2 yg kamu suka masih setia aku putar, hanya untuk mengenangmu, mengingat suaramu di saat menyanyikannya di hari bahagiamu itu, sambil kau terus tertawa, karena liriknya yg tidak cocok dengan keadaanmu….

Tahukah kamu, bahwa setiap detil kata yg pernah kamu ucap, akan selalu terpatri dalam ingatanku, bahkan walaupun kamu telah lupa jika pernah mengucapkannya…

Tahukah kamu, setiap aku online dan melihat segala tingkahmu di sana, aku selalu menahan diri untuk dapat mengabaikanmu, meski lebih sering aku tak bisa mengabaikannya, karena setiap tingkahmu selalu menarikku untuk bereaksi.

Taukah kamu mengapa semua itu aku lakukan?? Continue reading