Category: own life


my best friend’s graduate

7 Juni 2011, hari yang bersejarah bagi kami anak agronomi 07 (canopi) UNS. 5 orang teman kami, telah membuka gerbang kelulusan bagi anak2 agronomi angkatan 2007. 3,8 tahun menyelesaikan studi, sungguh hal yang menggembirakan, apalagi salah satu sahabatku masuk di dalam 5 lulusan tersebut, sebagai sahabatnya akupun turut bangga 😀 teman pertamaku di kampus hijau ini, tempat berbagi suka dan duka, sekarang telah menyelesaikan studinya, selamat buat Sisca Suparno SP, doakan aku menyusul di musim wisuda selanjutnya yah ta’.
sepertinya baru kemarin aku mengenalmu, masih segar dalam ingatanku, hmmm,, bukan, tepatnya kamu yang mengingatkanku, aku emang sangat payah dengan ingatan saat pertemuan pertama. saat hari pertama penyambutan mahasiswa baru, di lapangan rektorat, tak sekalipun aku memperhatikanmu, aku berpikir kita tak akan cocok berteman, sehingga aku yang emang cenderung sulit akrab dengan orang baru lebih memilih tak mencoba berkenalan denganmu, hanya salaman basa-basi saja. namun tak kusangka saat pulang ospek di hari pertama itu, kita pulang bareng, mengerjakan tugas bersama.
saat itu kamu selalu berbicara menggunakan bahasa indonesia, uhhh… aku yang tak terbiasa mendengarkan orang jawa sok berbahasa indonesia jadi jengkel sendiri, dan aku memintamu untuk berbicara bahasa jawa saja, namun ternyata setelah kamu berbicara bahasa jawa, aku malah ngakak gak berhenti2 :D, bahasa magelangan dicampur ngavak merah 😀 “enyong de’e” hehehehe….
dan akhirnya kitapun menjadi akrab, berdua kesana-kesini, dikira teman sejak SMA, dsb… dsb… dsb….
dan akhirnya tergabung menjadi pandawi.
tak terasa kelulusan akan segera mengurangi intensitas kebersamaan kita. selamat berjuang kawan!!! semoga sukses mengarungi kehidupan baru yang tentunya lebih menantang, doakan temanmu ini segera menyusulmu 😀

Advertisements

Dulu, aku hanya bisa tau namamu dibicarakan orang
Dan aku pun menjadi penasaran serta bertanya-tanya
“yang mana sih orangnya?”
Hingga aku bisa melihatmu secara nyata

Sekian lama mengenalmu,
Hanya beberapa kali melihatmu,
Sampai akhirnya hari berganti bulan,
Dan bulanpun terus berganti….

Aku menjadi ingin bisa lebih dekat denganmu,
Mengenalmu.
Tak hanya melihatmu dari jauh,
Berkata “hai” dan kau tersenyum
Akan membuatku girang setengah mati…

Tahunpun berganti,
Keadaan tetap sama
Kecuali obrolan-obrolan kecil denganmu
Yang dulu hanya aku anggap mimpi
Kini bisa aku rasakan,
Kehadiranmu menjadi lebih nyata dalam hidupku

Senyum simpulmu tersungging dari bibir tipis itu
Mengalunkan nada-nada indah di telingaku
Bagai alunan syahdu
Ohh… aku terbuai…

Tak terasa masa-masa kebersamaan formal kita
tinggal menghitung bulan
entah apa yang akan terjadi setelah itu
aku tak tahu
yang aku tahu, saat ini
aku harus memanfaatkan sisa waktuku
untuk bisa mengenalmu lebih
bahkan jika mungkin
bisa memenangkan hatimu

keadaan tetaplah sama
hanya perubahan-perubahan kecil tak berarti
antara kau dan aku

aku masih terlalu takut berharap lebih
bahkan aku mulai mencoba untuk menghapusmu
menghapus jejakmu dari hidupku

adalah saat terberatku
dimana kamu ada,
namun aku memaksakan diri
untuk menganggapmu tak ada

dan di saat terberatku itu
kamu berbalik arah
menjadi sedikit, hanya sedikit
memperhatikanku
sedikit menganggapku lebih
dari sekedar yang pernah aku harapkan

kau buyarkan semua tekadku
untuk melupakanmu
kau tata kembali jejakmu
yang telah pudar dari hatiku

jangan lakukan itu sayang,
jika yang kau beri untukku
hanyalah harapan semu
sungguh, itu hanya akan lebih menyiksa diriku….

Sayup-sayup terdengar alunan lagu dari Iwan Fals ”Ijinkan Aku Menyayangimu” di Radio favoritku membuatku terhanyut ke dalam lamunan masa silam. Aku tidak begitu mengingat, sejak kapan aku mulai mengagumimu, mungkin jauh sebelum aku bisa melihat wujudmu secara langsung. Aku hanya bisa mewujudkanmu di dalam imajinasiku, kata orang kamu begini, kata orang kamu begitu. Aihh… aku semakin penasaran saja denganmu. Saat itu aku masih mahasiswa baru.

“Andai kau ijinkan
Walau sekejap memandang
Kubuktikan kepadamu
Aku memiliki rasa…..”


Hingga suatu saat aku bisa menemukanmu dalam wujud yang nyata. Masih terekam jelas di dalam ingatanku, karena temanku kita berkenalan. Perkenalan yang tidak biasa, tanpa jabat tangan, tanpa sepatah kata, hanya senyuman. Sudah, kemudian berlalu.
Kamu tidak tampan. Nnggg…. paling tidak tampan menurut definisi kebanyakan orang. Aku tau tampan itu relatif. Namun, bukankah jika aku bilang kamu berhidung mancung, berkulit putih dan tinggi atletis maka orang-orang akan menganggap kamu tampan? Dan kamu jauh dari definisi itu.

Hari-hari berikutnya setelah perkenalan itu, aku lewati seperti biasa. Kecuali temanku yang juga sahabatmu itu, selalu saja menceritakan tentang dirimu tanpa aku minta, segalanya. Denyut kehidupanmu sudah mengalir di dalam nadiku, padahal kita tak pernah saling bicara. Puah!! Aku baru sadar, kita tak pernah benar-benar saling bicara. Hanya sebentuk senyum jika kebetulan kita berpapasan, atau jika aku sedikit beruntung, aku bisa mendengar suara beratmu menyapa namaku, hanya itu, tak pernah lebih. Bahkan aku sedikit takjub ketika ternyata kamu masih mengenaliku, mengingat namaku.

Saat itu, kesempatan pertamaku setelah sekian lama kita berkenalan, kamu menjadi asistenku. Akhirnya aku bisa mendengarkan kamu berbicara lebih lama dari biasanya yang hanya menyerukan namaku. Duuhhhh…. demi mendengar suaramu itu, aku seperti kehilangan separuh isi otakku. Seperti tersiram aspal panas, aku meleleh, lalu membeku. Sangat berbeda dari biasanya aku, yang selalu ceriwis.
Aku selalu meyakinkan diriku sendiri, bahwa ini hanyalah kekaguman, bukan cinta. Aku tak menyangka suaramu semerdu itu, bahasamu sehalus itu, sikapmu sesopan itu, kalau orang bilang, (n)Jawa-ni. Kamu terus membicarakan ini itu sambil mengulum senyum, manisss sekali. Dan aku? Jangan tanyakan bagaimana keadaanku saat itu. Bahkan keledaipun akan terlihat lebih pandai dariku. Aku terbius pesonamu.

Ritme hidupku berganti, aku tak lagi sering berpapasan denganmu, di jalan, di tangga, di depan kelas, ataupun di taman tempat kamu biasa duduk. Kamu seperti hilang di telan bumi. Namun aku masih bisa merasakan denyut kehidupanmu. Lagi-lagi karena temanku yang juga sahabatmu itu, tiada henti dia bercerita tentangmu. Kamu yang suka ini, kamu yang suka itu. Kamu yang benci ini kamu yang benci itu. Kamu yang tadi begini, kamu yang tadi begitu. Sudah seperti diary hidupmu saja. Membuatku semakin hafal semua tentangmu.

“Cinta yang ku pendam
Tak sempat aku nyatakan
Karena kau t’lah memilih
Menutup pintu hatimu”

Dari temanku itu pula aku tahu, gadis mana saja yang sedang mengambil hatimu. Dan anehnya, tidak ada sedikitpun rasa cemburu. Tak seperti terakhir saat aku patah hati, depresi, murung, banyak melamun, dan labil. Ah, aku berlebihan.
Tapi denganmu beda, kamu tau? Bukan karena hatiku tidak berdebar-debar saat sebentar saja aku melihatmu. Bukan, bukan itu. Jantungku seperti ingin meloncat, aku berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil mendapatkan mainan baru, garis bibirku tertarik tanpa sebab, menyunggingkan senyum, reflek aku memeluk apa saja yang bisa aku peluk, saking bahagianya. Aku ingin semua yang ada di sekitarku merasakan aroma bahagiamu juga. Kamu selalu sukses menaikkan moodku ke level tertinggi. Dopping. Namun entah mengapa aku tak berhasrat memilikimu. Kamu-dekat-namun-tak-terjangkau. Hanya cukup untuk dikagumi. Titik.

Terakhir aku dengar gadismu baru. Cantik. Ah, semakin kecil saja aku di matamu. Tapi tak mengapa, bukankah dari awal sudah aku tekadkan, aku hanya mengagumimu? Melihatmu saja aku sudah senang, apalagi mendapat sepotong senyummu itu, membuatku melayang.

“Ijinkan aku membuktikan
Inilah kesungguhan rasa
Ijinkan aku menyayangimu

Sayangku, ohhh…
dengarkanlah isi hatiku
Cintaku, ohhh…
dengarkanlah isi hatiku

Aku sayang padamu….
Ijinkan aku membuktikan….”

Seiring berakhirnya lagu itu diputar, aku kembali tersadar dari lamunanku tentangmu.

Dulu aku berfikir, kamu itu, dekat-namun-tak-terjangkau, hanya cukup untuk dikagumi. Sepertinya saat ini aku harus merevisi kata-kata itu, menjadi: kamu-dekat-dan-terjangkau-dalam-batasan-tertentu. Kalau kata orang Bule, one step closer.

Awalnya aku sudah ingin menyerah saja untuk mengharapkanmu, hingga suatu kali, aku melihat namamu mengisi inbox di handphoneku untuk pertama kalinya. Membuatku melayang. Pesan yang sangat biasa, walaupun tidak singkat. Hanya undangan seminar kelulusanmu. Harusnya kamu tak melakukan ini, jika tak ingin memberi harapan kepadaku dan merusak perasaan gadismu. Mungkin ini hal biasa bagimu, namun, gadis mana yang tak bahagia mendapatkan itu? Apalagi jika tau hanya dirinyalah yang mendapat undangan langsung.

Mulai saat itu, kau dan aku, kita, menjadi lebih dekat. Dekat dalam konteks yang lagi-lagi berbeda dengan definisi orang lain. Yang aku katakan dekat di sini, hanyalah kita yang mengobrol langsung, lebih lama dan dua arah. Tak banyak kata-kata yang kamu ucapkan dalam setiap obrolan kita. Selain kamu yang memang pendiam, juga karena aku yang entah mengapa kehilangan setiap kataku jika berhadapan denganmu. Salting, salah tingkah. Namun percayalah, semua perkataanmu terpatri dan melekat erat di dalam otakku, detil, tak terlewatkan.

Kau tak hanya inti, dimana kau selalu menarikku untuk mendekat, karena ada dan tak ada wujudmu pun, aku tetap selalu memikirkanmu, tertarik padamu.

Kisahmu bagiku, seperti potongan-potongan film yang tiada berujung. Entah butuh berapa juta roll film saja untuk mengisahkan kisah hidupku tentangmu. Hmmm… kalau tiga setengah tahun masih bisa dibilang sebentar, tak membuat kau tak memiliki cerita tersendiri dalam hidupku. Kau, sumber inspirasiku. Karenamu, aku selalu bersemangat mengerjakan tugas akhirku agar dapat berwisuda bersama denganmu. Jika aku merasa lelah, aku ingat untuk dapat memakai toga bersamamu. Jika aku merasa malas, aku ingat akan bersama-sama duduk di podium bersamamu di hari kelulusan kita nanti. Jika aku ingin menyerah, aku selalu ingat kau yang pandai, dan aku akan malu jika tak mampu mengimbangimu saat nama kita sama-sama tertera di dalam buku alumni. September, empat bulan lagi! 

(sebuah catatan untuk AAYB, dalam Swaragama Writing Competition “soundtrack of your life”)

Catatan Seorang anak ngGunung

Sejak lahir, aku hidup di dataran tinggi, tepatnya di kaki gunung Sumbing. Di sebuah kota kecil nan indah permai bernama MAGELANG. Konon katanya, diberi nama Magelang karena kotaku ini dikelilingi oleh gunung dan bukit yang jika dilihat dari udara berbentuk seperti gelang. Ga percaya?? Buktiin aja sendiri. Tak salah jika udara di Magelang sangatlah sejuk dan membuat orang malas menyentuh air, mandi.
Namun, karena sudah sangat terbiasanya saya dengan tempat ini, saya jadi tidak menyadari betapa indahnya kampung halaman saya selama ini. Dan saya baru menyadarinya setelah saya lama merantau ke Solo yang panas dan cukup semrawut, membuat saya selalu kangen dengan Magelang, walaupun rumah saya selalu dikatakan nDeso, namun keindahannya tak akan tergantikan .
*backsound Ipank – pelangi dan matahari*
Continue reading

sewaktu aku di perantauan

Mereka….
Orang2 yang menemani hari-hariku di perantauan

Ketika kita hidup di perantauan, dimana tidak ada sanak keluarga ataupun orang-orang yang kita kenal, maka disitulah kita akan menemukan orang-orang baru yang akan menjadi keluarga kita, dimana sebagian besar orang-orang perantau yang mempunyai nasib yang sama akhirnya bersatu untuk menghalau kesepian, tempat bercanda berkeluh kesah, serta berbagi semua hal yang biasanya kita lakukan bersama keluarga atau sahabat2 di rumah.
Selama tiga tahun lebih aku di perantauan, banyak sudah keluarga baru yang selalu menemani hari-hariku, baik secara langsung ataupun tidak langsung…
1. Noventi’ers
Warga Kost noventi a.k.a Noventi’ers Continue reading

ayem kaming bek

wuahahhaha… akhirnya aku kembali ke dunia blogging…. setelah sekian lama absen karena punya banyak mainan yang lebih simple, seperti microblogging di twitter, facebook, room YM di guyub magelang yang merupakan perwujudan chit chat kaskus regional Magelang yang bisa memenuhi hobiku buat ngobrol2 sanasini dan berinteraksi langsung dengan mastah2 di sana, sehingga cukup menyita waktuku untuk mengurus blog. hehehe….
dan sekarang aku kembali, kenapa??? karena tiba2 saja dapet tugas buat bikin blog…
hihihi… setelah sortir sana sortir sini dan mengingatingat serta memilah mana akun blog yang paling layak dipublishkan, maka aku pilihlah blog di wordpress ini saja, yang tampilannya udah lebih eye catching daripada blog2ku yang lain, yang masih sedikit berantakan 😀 *walaupun sedikit malu juga ternyata banyak curhatan2 yang gak penting di blog ini :malu:*

hmmm…. setelah menulis ternyata banyak ide2 yang berterbangan di otakku selama aku meninggalkan blogku tercinta ini :*
yahh… tapi karena males nulis, aku kasih tau saja hal2 besar *bagiku* selama aku vakum dari blog…. Continue reading

Tentang dia…

Sejak pertama kali mengenalnya, 2.5 tahun yang lalu….
Sejak itu pula aku hanya bisa melihatnya, menikmati senyumnya secara sembunyi-sembunyi untuk diriku sendiri. Tak sekalipun dia mengetahui sesuatu didalam dirinya telah tercuri, senyumnya, bayangannya. Hanya itu, namun aku tak pernah mampu mencuri hatinya.
Hingga kini, dengan ketidaksadarannya, dia masih tetap ada di sana, terkadang jauh, terkadang dekat, namun tetap tak dapat terjangkau.

Senyum, sapa, berlalu. Tak sekalipun melebihi itu. Dan aku juga tidak terlalu berharap dia melakukannya. Mustahil kalau kataku. Siapa sih aku ini? Hanya satu diantara banyak orang yang mengaguminya. Sang idola tak punya cukup waktu untuk memperhatikan orangorang di sekitarnya bukan?

Dan hari ini, seolah dunia sedang sangat baik padaku. Dia melihatku! Sesuatu hal yang sangat mahal harganya untukku.
Duduk berdua bersamanya di bangku panjang itu cukup membuatku melayang.
Jangan bayangkan adegan romantis seperti dalam dramadrama, dimana seorang pria dan wanita duduk berdekatan di sebuah bangku, berhadaphadapan dan saling memandang penuh kasih. Tak ada adegan seperti itu. Ini hanya percakapan biasa yang bagiku sangaaaaat luar biasa. Melihatnya berbicara dengan gayanya yang khas, berbicara sambil mengulum senyum, selalu seperti itu. Aku selalu saja meleleh dibuatnya.
Beruntung kebodohan dahulu tak terulang, aku sudah mampu berbicara dengannya, tidak hanya membisu saking terpesonanya.

Terlalu banyak yang dia berikan padaku hari ini. Cukup untuk mencharge kebahagiaanku sepuluh kali lipat dari biasanya. Semoga ini pertanda baik.

siakad UNS

akhir-akhir ini saya sedang mengalami emosi tingkat inggi klau berurusan dengan pendidikan.. -ah nana sih emang hobinya emosi melulu… huahaha… teringat komen dari seorng temen- oke lanjut, menyikapi mengapa saa menadi emosi??? karena portal akademik kampus say -salah satu atau mungkin satu2nya universitas negeri di kota Surakarta menunjukkan kemanjaannya…hehe…s

semoga dengan menulis blog ini saya tidak bernasib sama dengan prita mulyani.  di sini saya hanya menyampakan uneg-uneg saya sebagai bagian dari univeristas tersebut karena ketidaknyamanan dalam mengakses fasilitas-fasilitas yang ada.

bukankah sangat tidak efektif jika kita harus berulang kali online? masih mending bagi mereka yang mempunyai koneksi internet sendiri, tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk mengaksesn.  lalu bagaimana dengan teman-teman yang bernasib sama seperti saya, yang harus online melalui warnet, dan sesampainya di warnet kekecewaanlah yang didapat karena portal eror. itu baru point pertama.  setelah berhari-hari mencoba, Continue reading

CANOPI on Vacation


tanggal 7 Februar2010 kemarin, aku bersama teman Canopi’ers (sebutan bagi mahasiswa-mahasiswi agronomi UNS 2007) a.k.a CAh NOmi rongewu Pitu mengadakan acara piknik bareng dalam rangka penghilang stress setelah satu semester dijejali dengan berbagai kesibukan kuliah..dari praktikum, bikin laporan, hingga ujian-ujian…

and finally, acara yang sudah direncanakan sejak semester lalu ini pun akhirnya terlaksana juga.  berawal dari debat panjang detik-detik terakhir perkuliahan semester 5 tentang ke mana tujuan tour kali ini, akhirnya BKK+malioboro di jogja menjadi tujuan kami. Continue reading

sepenggal kisah kehidupan

Aq selalu bersemangat, saat aq bisa mengulang dan terus mengulang, menceritakan kisah yg pernah kita lalui, hingga terkadang aku tak menghiraukan apakah mereka bosan mendengar kisahku tentangmu yg melulu seperti itu…

Di saat pesan2 singkat lain terhapus dari inbox di handphoneku, tahukah kamu, barisan kata2mu masih tersimpan rapi di sudut terbawah, terdesak oleh waktu…

Di saat playlistku berganti dengan lagu2 yg sedang hits saat ini, tahukah kamu, lagu2 yg kamu suka masih setia aku putar, hanya untuk mengenangmu, mengingat suaramu di saat menyanyikannya di hari bahagiamu itu, sambil kau terus tertawa, karena liriknya yg tidak cocok dengan keadaanmu….

Tahukah kamu, bahwa setiap detil kata yg pernah kamu ucap, akan selalu terpatri dalam ingatanku, bahkan walaupun kamu telah lupa jika pernah mengucapkannya…

Tahukah kamu, setiap aku online dan melihat segala tingkahmu di sana, aku selalu menahan diri untuk dapat mengabaikanmu, meski lebih sering aku tak bisa mengabaikannya, karena setiap tingkahmu selalu menarikku untuk bereaksi.

Taukah kamu mengapa semua itu aku lakukan?? Continue reading