Sejak lahir, aku hidup di dataran tinggi, tepatnya di kaki gunung Sumbing. Di sebuah kota kecil nan indah permai bernama MAGELANG. Konon katanya, diberi nama Magelang karena kotaku ini dikelilingi oleh gunung dan bukit yang jika dilihat dari udara berbentuk seperti gelang. Ga percaya?? Buktiin aja sendiri. Tak salah jika udara di Magelang sangatlah sejuk dan membuat orang malas menyentuh air, mandi.
Namun, karena sudah sangat terbiasanya saya dengan tempat ini, saya jadi tidak menyadari betapa indahnya kampung halaman saya selama ini. Dan saya baru menyadarinya setelah saya lama merantau ke Solo yang panas dan cukup semrawut, membuat saya selalu kangen dengan Magelang, walaupun rumah saya selalu dikatakan nDeso, namun keindahannya tak akan tergantikan .
*backsound Ipank – pelangi dan matahari*

… padang hijau, dibalik gunung yang tinggi
Berhiaskan pelangi, setelah hujan pergi
…Ku terdampar di tempat seindah ini
Seperti hati sedang, sedang jatuh cinta
…Sungai mengalir, sebebas aku berfikir
Hembusan angin dingin, membawa aku berlari
Mensyukuri semua nikmat yang telah Kau beri
Hati yang rapuh ini, Kau kuatkan lagi…
Na…na…na…na….
Lagu itu tidaklah berlebihan untuk menggambarkan tempatku tinggal. Sawah-sawah terhampar luas sejauh mata memandang. Tiga buah gunung, Merapi-Merbabu-Sumbing bak pagar yang melindungi kampung halamanku, bukit Tidar yang terkenal dengan istilah “Pakuning Tanah Jawa” berdiri kokoh nun jauh di pusat kota, serta hamparan bukit Menoreh dengan bukit2 indahnya berjajar rapi dan kokoh. Sungai-sungai masih mengalir jernih, dengan kecipak bebek milik warga saat pagi dan sore tiba. Angin sepoi-sepoi menyejukkan pikiran. Begitulah adanya kampung halamanku, sebuah desa kecil yang jauh dari keramaian, cenderung pelosok namun keindahannya tak tertandingkan .
Karena kemanapun aku melangkah, aku akan tetap kembali jua. Karena kemanapun aku melangkah, namamu akan selalu terbawa. Karena kemanapun aku singgah, kau tak akan pernah terlupa, kampung halamanku…..

Advertisements