Ini hanya sebuah kekaguman, bukan cinta. Kalau ditanya apa bedanya? Jelas berbeda, hatiku telah mengkotakkan dua kata, dua rasa itu dalam ruang berbeda.

Aku lupa sejak kapan aku mulai mengagumimu, mungkin sejak pertama aku melihatmu. Masih terekam jelas dalam ingatanku, karena temanku kita berkenalan. Perkenalan yang cukup aneh, tanpa jabat tangan, tanpa sepatah kata, hanya senyum. Sudah. Kemudian berlalu. Temankulah yang dengan sibuknya memperkenalkanmu. Menyebutkan nama kita berdua.

Kamu tidak tampan. Ngg… Paling tidak, tampan menurut definisi kebanyakan orang. Aku tau tampan itu relatif, tapi bukankah jika aku bilang kamu berhidung mancung, kulit putih, tinggi atletis, orang akan menganggap kamu tampan? Dan, kamu jauh dari definisi itu.

Hari2 berikutnya setelah perkenalan itu aku lewati seperti biasa. Kecuali temanku yang juga sahabatmu itu dengan ceriwisnya menceritakan semua tentangmu, segalanya. Denyut kehidupanmu sudah mengalir dalam nadiku, padahal kita tak pernah bicara.
Puah!! Aku baru sadar, kita tak pernah benar2 saling berbicara. Hanya sebentuk senyum jika kebetulan kita berpapasan, atau jika aku sedikit beruntung, aku bisa mendengar suaramu menyapa namaku, hanya itu, tak pernah lebih. Bahkan aku sedikit takjub ketika ternyata kamu masih mengenaliku, mengingat namaku.

Saat itu, kesempatan pertamaku -setelah sekian lama kita berkenalan- akhirnya aku bisa mendengar kamu berbicara lebih lama dari biasanya yang hanya menyerukan namaku. Duuuhh….demi mendengar suaramu itu, aku seperti kehilangan separuh isi otakku. Seperti tersiram aspal panas, aku meleleh, kemudian membeku. Sangat berbeda dari biasanya aku, yang selalu ceriwis.

Ini cuma kekaguman, bukan cinta. Aku tak menyangka suaramu semerdu itu, bahasamu sehalus itu, sikapmu sesopan itu. Kamu terus berbicara menjelaskan ini itu sambil terkadang mengulum senyum. Manis sekali. Dan aku? Jangan tanya bagaimana keadaanku saat itu. Mungkin keledaipun lebih pandai dariku. Aku terbius pesonamu.

Ritme hidupku berganti. Aku tak lagi sering berpapasan denganmu, di jalan, di tangga, di depan pintu, di taman kamu biasa duduk, kamu seperti hilang ditelan bumi.
Namun aku masih bisa merasakan denyut kehidupanmu. Dari siapa lagi kalau bukan dari temanku itu. Temanku yang selalu menceritakan semuanya. Semuanya. Kamu yang suka ini, kamu yang suka itu, kamu yang benci ini, kamu yang benci itu, kamu yang tadi begini, kamu yang tadi begitu. Ah! Iri aku dengan temanku satu itu.
Aku semakin hafal saja semua tentangmu.
Dari temanku pula aku tau, gadis mana saja yang sedang mengambil hatimu. Dan anehnya, tidak ada rasa cemburu. Tak seperti saat terakhir aku patah hati, depresi, murung, banyak melamun, dan labil. Ah, aku berlebihan.
Tapi denganmu beda, kamu tau? Bukan karena hatiku tidak berdebar2 saat sebentar saja aku melihatmu, bukan, bukan itu, jantungku seperti ingin meloncat, aku berjingkrak2 malah, garis bibirku tertarik tanpa sebab, reflek aku memeluk apa saja yang bisa aku peluk, saking bahagianya, aku ingin semua yang ada disekitarku merasakan aroma bahagiamu juga. Kamu selalu sukses menaikkan moodku ke level tertinggi. Dopping.

Namun entah mengapa aku tak pernah berhasrat memilikimu. Kamu-dekat-namun-tak-terjangkau. Hanya cukup untuk dikagumi. Titik.
Pernah membayangkan kita mendapat hadiah berkencan dengan artis idola? Mungkin seperti itulah perasaanku padamu.

Terakhir aku dengar gadismu baru. Cantik.
Ah, tambah kecil saja aku di matamu. Tapi tak apa, bukankah dari awal aku sudah bilang, aku hanya mengagumimu? Melihatmu saja aku sudah senang, apalagi mendapat sepotong senyummu itu, membuatku melayang.

Seperti de javu, aku berkenalan dengan gadismu, lagi2 dengan cara yang aneh. Dalam sekejap saja, aku dan gadismu itu sudah seperti sahabat yang telah lama saling kenal. Bercanda, tertawa, bertukar cerita. Termasuk tentang kamu, dari pihak dia tentunya, bukan aku. Cari mati apa, aku menceritakan tentang kamu.

Mungkin jika orang lain yang ada di posisiku, pasti tidak tahan berlama2 mendengar kisah gadismu itu. Kisah betapa baiknya kamu, sanjungan2, dan kadang meminta pendapat saat kalian berselisih. Kalau bisa, mungkin mereka memberi saran agar gadismu memutuskanmu saja. Dan berganti posisi.
Tapi tidak denganku. Jangan tanyakan mengapa aku seperti itu, karena akupun tak tau. Malah, aku berterima kasih pada gadismu itu, karena dialah aku bisa lebih sering melihat senyummu yang selalu kurindukan itu, karena dialah aku bisa memandangimu berlama2, tak hanya berpapasan, kemudian berlalu.

Ah, betapa baiknya gadismu itu, sehingga mau sedikit membagi dirimu untukku.

Advertisements