Keping2 yang berserakan dan tinggal menunggu saatnya tersapu angin untuk selanjutnya dilupakan itu tiba2 terkumpul kembali menjadi sebuah film pendek yang berputar dengan lambat, melayang2 di otakku. Tiba2 saja dadaku terasa sesak mengingat kepingan2 itu, tanpa terasa air mata mengalir dari sudut mataku. Tidak mungkin! Aku menangis?!

*#*#*#

Jika semua teori itu sesuai dengan prakteknya, seharusnya mudah saja bagiku menerima semua ini. Membiarkannya berlalu, membiarkannya berbuat yang terbaik menurutnya, dan membiarkan dia berbahagia dengan kekasihnya, kemudian aku juga bersenang2 dengan kehidupanku, menganggap tak pernah mengenalnya. Namun ternyata tak semudah itu, perasaan kecewa, menyesal, amarah, dan kadang kesan lucu, selalu menari2 di benakku jika memory itu terputar kembali. Teringat akan sosoknya yang periang, selalu membuatku tertawa, dan menangis tentunya -tanpa dia ketahui secara langsung-. Dia seperti candu, melihat tulisan2nya tercetak di inbox handphoneku saja sudah membuatku merasa lebih baik, merasa hidup. Apa lagi jika mendengarkan tawanya, suaranya yang khas, suara berat yang terkesan aneh di telinga orang yang belum terbiasa mendengarnya.

%*%*%*

“Tita! Kamu mendengarku kan?!” seru suara di sampingku, aku melamun…
Namaku Titania, terinspirasi dari nama satelit di planet saturnus. Ah sebenarnya tidak penting aku menceritakan asal usul namaku, karena pasti membutuhkan beberapa halaman untuk menjabarkanya, yang perlu kamu ketahui hanyalah, panggilanku, Tita!

*#*#*#

Orang bilang aku aneh, dan menjadi lebih aneh sejak aku mengenalnya, dia pun juga menganggapku aneh. Aku tidak terlalu ambil pusing dengan predikat itu, asalkan aku masih bisa bercanda dengannya.
Dia memperkenalkan dirinya dengan nama Unno Dyaksa, konon orang tuanya memberi nama itu karena dia anak pertama. Setelah mendiskripsikan namanya secara panjang lebar, aku mulai tertarik dengannya. Gaya ceritanya yang lucu, bahkan terkesan konyol selalu bisa membuatku tertawa.
Setiap hari intensitas komunikasi kami semakin bertambah, di kelas, aku lebih memilih sms-an dengannya daripada memperhatikan dosen, saat mengobrol dengan teman2ku, aku hanya mengangguk-angguk jika temanku menanyakan pendapatku, tanpa aku tau apa yang sebenarnya sedang dibicarakan, karena larut dengan gurauan2nya. Saat week end pun, aku lebih memilih menghabiskan waktu bersamanya. Kami tak pernah kehabisan bahan obrolan, beralih dari satu topik ke topik lain, dari yang ringan, hingga berat, dari hoby hingga hal2 yang di benci, hanya satu yang aq tidak tau, kehidupan pribadinya, kisah cintanya! Dan aku enggan untuk menanyakan hal itu secara langsung, walaupun telah sering aku menanyakannya secara terselubung, dan dia selalu menjawab dengan jawban konyolnya seperti biasa, sehingga aku menyimpulkan jika dia single! Dan aku menikmati itu, karena pada dasarnya, aku membenci kegiatan mengganggu rumah tangga orang.
Aku berprinsip ‘setergila2nya aku dengan seorang pria, aku akan langsung menjaga jarak jika mengetahui dia telah mempunyai pasangan, apalagi istri!’
Oh God! Dia telah mengalihkan duniaku!

*#*#*#*

*hanya kamu yang bisa membuat aku jadi tergilagila*

Handphoneku berdering, deretan angka2 berkedip2 di layar, yang artinya nomor itu tidak ada di dalam phonebooku.
“hallo” sapaku, orang di seberang tidak menjawab, hingga aku mengulangi sapaanku lagi dengan sedikit nada kesal.
Akhirnya suara di seberang menjawab, “benarkah ini tita?” suara itu seperti menahan isak, suara seorang wanita.

Aku terdiam membeku, shock dengan kenyataan yang aku terima begitu tiba2, bagai tersengat listrik ribuan volt, aku lemas, tak kuasa menahan beban badanku sendiri, aku terduduk di kursi dengan handphone yang hampir terjatuh dari genggamanku. Kata2 perempuan itu menyanyinyanyi di telingaku.
“kita sama2 perempuan kan? Kamu pasti bisa merasakan bagaimana rasanya bila kamu ada di posisiku” rengek wanita di seberang sambil terus terisak.
Jgeeerrrr!!!!
Aku tersentak, cobaan macam apa lagi ini??

*#*#*#*

Unno Dhyaksa,, hampir setengah tahun ini, dialah yang memenuhi hari2ku, menyemaikan bunga2 di dalam hatiku, membuatku yang sempat layu menjadi berseri kembali.

Saat itu sudah lewat dini hari, namun handphoneku masih saja aktif bergetar karena menerima sms yg hampir setiap menit.
Saking seringnya aku sms an dengannya, semakin mahir pula jari jemariku menari di atas keypad.
Tema obrolan lewat tengah malam kami hari itu adalah pengalamannya berpetualang, dimana dia menceritakan pengalamannya mendaki gunung tertinggi di pulau jawa, dan menyelami lautan manado yang terkenal akan keindahannya. Ya, puncak semeru dan taman laut bunaken, itu yang dia ceritakan. Dia bercerita, tentang bagaimana dia tersesat di pegunungan itu dan diserang badai gunung yang dahsyat, sehingga dia harus melakukan berbagai cara untuk tetap bertahan hidup di puncak sana. Dia juga bercerita tentang keindahan taman bawah laut Bunaken, dimana dia bertemu hewan kesukaanku, lumba-lumba. Dan seperti sebelum2nya, aku selalu terpana akan cerita2nya. Cerita yang mengalir darinya mengendapkan kesan tersendiri dalam benakku. Aku berpikir, begitulah seharusnya pria, mampu menjelajah alam.
Belum lagi kisahnya saat bertemu ikan lumba2 di laut bunaken saat dia bersama rombongan pulang dari wisata laut dan kembali ke manado. Kepandaiannya bercerita, dengan gayanya yang selalu kocak, ditambah lagi dia menceritakan hewan yang sangat aku sukai, membuatku semakin mengaguminya.
Diam2, aku menaruh hati kepadanya, dan berharap suatu saat kelak, kami akan menjadi lebih dari sekedar teman.
Aku meyakini hal itu, karena berbagai kecocokan yang aku temui, antara aku dan unno, kecocokan yang saling melengkapi.
Saat aku sedih, Unno selalu bisa menghiburku, saat aku senang, dia ikut tertawa bersamaku, namun tak jarang pula aku bertengkar dengannya hanya karena masalah sepele, dan diantara kami tidak ada yang mau mengalah.
Misalnya saat memperdebatkan masalah buku yang aku sukai. Dia selalu mengejek novel2 yang aku baca yang kebanyakan tentang percintaan dan melankolis.
Hanya karena masalah sebuah novel, kami bisa berdebat berjamjam hingga kami merasa capek sendiri, dan sepakat menyudahi perdebatan yang tiada ujung itu.

what a wonderful life with him?!
Dan aku berharap semua ini akan berakhir bahagia.

*#*#*#*

Almira nama gadis itu, gadis yang menelponku dengan terisak-isak.
Dia menemukan nomorku memenuhi inbox kekasihnya, sehingga dia memutuskan untuk menelepon dan melabrakku. Aku hanya terbengong2 saat ada seorang perempuan yang meneleponku, dan mengaku sebagai kekasih dari pujaan hatiku, pria yang selalu membuatku bahagia, pria yang selalu aku bayangkan bisa menemani hari-hariku hingga aku tua.

Tidak percaya, shock, dan amarah langsung berkecamuk di dalam benakku saat mendengarkan pengakuannya, namun aku coba bersabar, menahan diri untuk tetap menyimak ceritanya, mendengarkan curhat dari orang yang baru beberapa menit lalu aku kenal, oh! Betapa tololnya wanita ini, hingga mau berbagi denganku, dengan orang yang mencintai kekasihnya. Beruntung dia tidak tahu hal itu.

Pada awalnya, mira memaki maki aku, dengan segala cacian dan hinaan, namun beberapa menit kemudian, setelah dia puas melampiaskan amarahnya kepadaku, dia memohon untuk tidak berhubungan dengan kekasihnya, aku hanya terdiam mematung, namun hatiku tidak mau menerima hal itu. Batinku menjerit “salahkan saja kekasihmu itu, yang mengajakku bermain2 sehingga aku terseret ke dalam permainannya”.
Saat dia meminta untuk menempatkan diriku di posisinya, apakah dia pernah berpikir berada di posisiku? Namun dari sudut pandang manapun, aku tetap akan kalah, sekeras apapun aku membela diri, “mereka tidak pernah tau apa yang terjadi, kamu tidak pernah tau apa yang aku rasakan mira” aku terisak dalam diam.
Hening, hanya terdengar isakan mira di seberang, dan segala tuduhan2nya yang menyudutkanku, aku tidak mampu berkata-kata lagi.

*#*#*#*

Sejak kejadian itu, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku telah meminta maaf kepada mira, walaupun aku tahu aku tidak salah. ‘dia -unno- yang datang padaku, dan aku membukakan pintu menyambutnya, karena aku pikir dia menarik’.
Bukankah tidak ada yang salah dengan hal itu?
Ditambah lagi kenyataan bahwa dia baik, dan aku semakin memperlebar pintuku, semuanya mengalir secara alami.

Namun, dibalik semua itu, aku merasa kecewa, kecewa dengan segala perbuatan unno yang membuatku terbang, kemudian menjatuhkanku di dasar yang paling dalam dan curam. Kekecewaan, kekesalan, dan kadang rasa ingin membalas semua perbuatan yang pernah dia lakukan, datang silih berganti di dalam benakku, namun rasa sayangku padanya menutup segalanya, sehingga aku hanya bisa berbuat hal2 yang tidak jelas.
Begitu beratnya menerima kenyataan yang berubah sangat cepat itu, kemarin aku masih bisa tersenyum, namun sekarang aku tidak tau harus dengan cara apa lagi untuk menutup luka itu…..

Advertisements