Latest Entries »

peneliti tak lupa mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Ir. H. Bambang Pujiasmanto, MS selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Dr. Ir. Pardono, MS selaku pembimbing utama dan Ir. Sri Hartati, MP selaku pembimbing pendamping yang telah memberikan saran dan sumbangan pemikiran kepada penulis selama pelaksanaan penelitian sampai penyusunan skripsi ini.
3. Ir. Sri Widadi, MP selaku dosen pembahas yang telah memberikan masukan dan saran pada skripsi ini.
4. Muji Rahayu, SP, MP selaku pembimbing akademik penulis.
5. Ir. Eddy Triharyanto, MP beserta staff PPKWu LPPM Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan ide serta fasilitas yang dibutuhkan penulis selama penelitian.
6. Keluarga tercinta : Bapak, Ibu, kakak, keponakan dan keluarga Muh. Dimjati serta Nawawi yang selalu memberi dukungan moral dan materil selama ini.
7. Seseorang yang selalu membuat penulis semangat untuk menyelesaikan skripsi ini, you are so inspiring, Mas.
8. Teman-teman “Pandawi”, Midz, Nciz, Wendy, Bellz, terimakasih atas dukungan, semangat, dan persahabatan yang telah kalian berikan kepada penulis.
9. Tim Granular Getasan, Mimid, Mbak Lia, Iman, Daus, Fitri, Dewi, sebagai rekan penelitian yang telah bekerja sama dengan baik, semangat, dan kebersamaan selama ini.
10. Anak-anak “Canopi 07”, “Noventi”, dan “AAYB” atas inspirasi sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
11. Bapak Suyanto, Ibu Sri dan Mbah Suwar yang telah membantu penulis selama penelitian di lahan.
12. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, atas segala bantuan baik langsung maupun tidak langsung, kritik, saran, dan dorongan demi kelancaran penyusunan skripsi ini.

Advertisements

habis nonton nih film,, kok ceritanya gue banget yah???
bikin mewek dari tengah sampe akhir,,, huhuhu….

dan bikin berandai2, andai saja, kisah ku seperti itu 😦

don’t know how long is it,
that i have resist everything
hide all of the truth in my heart
everytime we meet
everytime u turn to me
that I pretend to be still
do u know how much I have to force myself?
can u hear that?
my heart…
but I cannot reveal my true feeling to anyone
is wating there for you to open
though I love u
though I feel it
but deep inside isn’t brave enough
love can win everything
especially fear, my heart…
can only hope you will know it
that I’m the one here to love u
I’m begging you please know it
someday……..

melakukan apapun demi orang yang kita cintai,, hahaha… fairytale banget, tapi it works…

kata2 ini aku cuplik dari film itu, dengan sedikit gubahan, disesuaikan dengan keadaan :p

yes, he is my senior
he is a bass player
and very cute
at that time, I tried to study better so he might interest in me
“did he know it in the end?”
he knew but it didnt have a happy ending
but when I think about it
he is like my inspiration
he made me use the love in good way
he is like the power that support me to be better and better

hahaha,, dan sayangnya semua telah berakhir ‘FINALLY HE KNEW, AND IT HAVEN’T A HAPPY ENDING”

😀

apa aku menyesal?? tentu tidak….
malu iya… hihiihihi…
gausah diceritain di sini secara detil deh…
blogmu harimaumu, jangan sampai kejadian itu terulang lagi, tupai aja gak jatuh di tempat yang sama dua kali 🙂

aku sudah melakukan kesalahan…
ohow… itu bukan kesalahan, I can’t control my heart
(terlihat seperti sebuah pembenaran kelihatannya ya?)
tapi semua orang melakukan itu kan, melakukan pembelaan untuk dirinya sendiri
aku tak mau bicara banyak,, for me, that case was close, and I did’nt do that fault anymore….

biarlah dia bicara sesukanya, itu haknya
tapi hidupku akan terus berjalan
walaupun terlihat ditekan
walaupun dia bilang ya tapi ternyata tidak
dan dia bilang tidak tapi ternyata iya
bertindaklah sesukamu nak!!!
aku sudah gak terpengaruh 🙂
aku sudah melakukan yang terbaik yang aku bisa
jika kamu masih bersikeras, its ur business
hahahaha…….

kemarau setaun ga akan mampu dibasuh hujan sehari
kita sama2 tau itu 🙂

my best friend’s graduate

7 Juni 2011, hari yang bersejarah bagi kami anak agronomi 07 (canopi) UNS. 5 orang teman kami, telah membuka gerbang kelulusan bagi anak2 agronomi angkatan 2007. 3,8 tahun menyelesaikan studi, sungguh hal yang menggembirakan, apalagi salah satu sahabatku masuk di dalam 5 lulusan tersebut, sebagai sahabatnya akupun turut bangga 😀 teman pertamaku di kampus hijau ini, tempat berbagi suka dan duka, sekarang telah menyelesaikan studinya, selamat buat Sisca Suparno SP, doakan aku menyusul di musim wisuda selanjutnya yah ta’.
sepertinya baru kemarin aku mengenalmu, masih segar dalam ingatanku, hmmm,, bukan, tepatnya kamu yang mengingatkanku, aku emang sangat payah dengan ingatan saat pertemuan pertama. saat hari pertama penyambutan mahasiswa baru, di lapangan rektorat, tak sekalipun aku memperhatikanmu, aku berpikir kita tak akan cocok berteman, sehingga aku yang emang cenderung sulit akrab dengan orang baru lebih memilih tak mencoba berkenalan denganmu, hanya salaman basa-basi saja. namun tak kusangka saat pulang ospek di hari pertama itu, kita pulang bareng, mengerjakan tugas bersama.
saat itu kamu selalu berbicara menggunakan bahasa indonesia, uhhh… aku yang tak terbiasa mendengarkan orang jawa sok berbahasa indonesia jadi jengkel sendiri, dan aku memintamu untuk berbicara bahasa jawa saja, namun ternyata setelah kamu berbicara bahasa jawa, aku malah ngakak gak berhenti2 :D, bahasa magelangan dicampur ngavak merah 😀 “enyong de’e” hehehehe….
dan akhirnya kitapun menjadi akrab, berdua kesana-kesini, dikira teman sejak SMA, dsb… dsb… dsb….
dan akhirnya tergabung menjadi pandawi.
tak terasa kelulusan akan segera mengurangi intensitas kebersamaan kita. selamat berjuang kawan!!! semoga sukses mengarungi kehidupan baru yang tentunya lebih menantang, doakan temanmu ini segera menyusulmu 😀

dulu, waktu masih kecil, aku ingin sekali pergi ke opera house theater di Australia sana, saat itu, aku berfikir, sungguh sangat romantis jika kita bisa berkunjung kesana di malam hari, diiringi kerlip-kerlip lampu yang terpantul di air bersama seseorang yang spesial. waktu itu aku menjadi tertarik karena sering melihatnya di buku2 peta dunia :p. namun seiring berjalannya waktu, keinginan itu tinggallah keinginan masa kecil yang kemudian terlupakan, tanpa ada tindak lanjut dariku untuk bisa menggapainya. hingga aku menemukan sebuah buku yang sungguh sangat inspiratif, Negeri Van Oranje!!! aku yang emang pecinta novel, tidak pernah sebegitu terobsesinya dengan kisah-kisah yang ada di novel yang pernah aku baca. begitu banyak novel yang menceritakan perjalanan ke luar negeri telah aku baca, kisah hidup seorang anak kampung ke negeri paman sam, kisah seorang santri yang bisa sampai ke canada, kisah seorang anak miskin yang bisa keliling eropa, tak ada satupun diantara novel2 itu yang membuatku sangat terobsesi untuk pergi ke luar negri. bukan berarti novel2 itu tidak bagus, karena novel2 yang aku sebutkan itu sudah menjadi best seller, namun satu2nya novel yang membuatku menjadi sangat terobsesi ya novel satu ini.

Belanda! netherland! holland!! negerinya para kumpeni, negara yang pernah menjajah negeri kita selama lebih dari 300 tahun itu (kalo gak salah, aku lupa tepatnya, pelajaran sejarahku agak kacau :p) dulu tak pernah terlintas di benakku kecuali saat aku akan menghadapi ujian sejarah waktu SD hingga SMA dan terlupakan begitu saja ketika ujian selesai.
namun setelah mebaca kisah perjalanan mahasiswa2 Indonesia di negeri Belanda, entah mengapa kata belanda selalu saja terngiang-ngiang di otakku. dan sekarang hal itu menjadi salah satu impian terbesarku selain mimpi2 besarku yang lain :p
semoga aku bisa ke sana, suatu saat nanti!! melanjutkan kuliah di sana, bikin bangga orang tua dan mas ku satu2nya yang selalu berharap agar aku bisa kuliah lagi dan mengharapkan aku untuk menjadi dosen padahal cita2ku pengen jadi peneliti di balai huhuhu,,, tapi yang pasti aku harus bisa kesana agar aku bisa membalas jasa2 orang yang menyayangiku dengan membuat mereka bangga 🙂
pasti bisa ke sana 😀

Dulu, aku hanya bisa tau namamu dibicarakan orang
Dan aku pun menjadi penasaran serta bertanya-tanya
“yang mana sih orangnya?”
Hingga aku bisa melihatmu secara nyata

Sekian lama mengenalmu,
Hanya beberapa kali melihatmu,
Sampai akhirnya hari berganti bulan,
Dan bulanpun terus berganti….

Aku menjadi ingin bisa lebih dekat denganmu,
Mengenalmu.
Tak hanya melihatmu dari jauh,
Berkata “hai” dan kau tersenyum
Akan membuatku girang setengah mati…

Tahunpun berganti,
Keadaan tetap sama
Kecuali obrolan-obrolan kecil denganmu
Yang dulu hanya aku anggap mimpi
Kini bisa aku rasakan,
Kehadiranmu menjadi lebih nyata dalam hidupku

Senyum simpulmu tersungging dari bibir tipis itu
Mengalunkan nada-nada indah di telingaku
Bagai alunan syahdu
Ohh… aku terbuai…

Tak terasa masa-masa kebersamaan formal kita
tinggal menghitung bulan
entah apa yang akan terjadi setelah itu
aku tak tahu
yang aku tahu, saat ini
aku harus memanfaatkan sisa waktuku
untuk bisa mengenalmu lebih
bahkan jika mungkin
bisa memenangkan hatimu

keadaan tetaplah sama
hanya perubahan-perubahan kecil tak berarti
antara kau dan aku

aku masih terlalu takut berharap lebih
bahkan aku mulai mencoba untuk menghapusmu
menghapus jejakmu dari hidupku

adalah saat terberatku
dimana kamu ada,
namun aku memaksakan diri
untuk menganggapmu tak ada

dan di saat terberatku itu
kamu berbalik arah
menjadi sedikit, hanya sedikit
memperhatikanku
sedikit menganggapku lebih
dari sekedar yang pernah aku harapkan

kau buyarkan semua tekadku
untuk melupakanmu
kau tata kembali jejakmu
yang telah pudar dari hatiku

jangan lakukan itu sayang,
jika yang kau beri untukku
hanyalah harapan semu
sungguh, itu hanya akan lebih menyiksa diriku….

Sayup-sayup terdengar alunan lagu dari Iwan Fals ”Ijinkan Aku Menyayangimu” di Radio favoritku membuatku terhanyut ke dalam lamunan masa silam. Aku tidak begitu mengingat, sejak kapan aku mulai mengagumimu, mungkin jauh sebelum aku bisa melihat wujudmu secara langsung. Aku hanya bisa mewujudkanmu di dalam imajinasiku, kata orang kamu begini, kata orang kamu begitu. Aihh… aku semakin penasaran saja denganmu. Saat itu aku masih mahasiswa baru.

“Andai kau ijinkan
Walau sekejap memandang
Kubuktikan kepadamu
Aku memiliki rasa…..”


Hingga suatu saat aku bisa menemukanmu dalam wujud yang nyata. Masih terekam jelas di dalam ingatanku, karena temanku kita berkenalan. Perkenalan yang tidak biasa, tanpa jabat tangan, tanpa sepatah kata, hanya senyuman. Sudah, kemudian berlalu.
Kamu tidak tampan. Nnggg…. paling tidak tampan menurut definisi kebanyakan orang. Aku tau tampan itu relatif. Namun, bukankah jika aku bilang kamu berhidung mancung, berkulit putih dan tinggi atletis maka orang-orang akan menganggap kamu tampan? Dan kamu jauh dari definisi itu.

Hari-hari berikutnya setelah perkenalan itu, aku lewati seperti biasa. Kecuali temanku yang juga sahabatmu itu, selalu saja menceritakan tentang dirimu tanpa aku minta, segalanya. Denyut kehidupanmu sudah mengalir di dalam nadiku, padahal kita tak pernah saling bicara. Puah!! Aku baru sadar, kita tak pernah benar-benar saling bicara. Hanya sebentuk senyum jika kebetulan kita berpapasan, atau jika aku sedikit beruntung, aku bisa mendengar suara beratmu menyapa namaku, hanya itu, tak pernah lebih. Bahkan aku sedikit takjub ketika ternyata kamu masih mengenaliku, mengingat namaku.

Saat itu, kesempatan pertamaku setelah sekian lama kita berkenalan, kamu menjadi asistenku. Akhirnya aku bisa mendengarkan kamu berbicara lebih lama dari biasanya yang hanya menyerukan namaku. Duuhhhh…. demi mendengar suaramu itu, aku seperti kehilangan separuh isi otakku. Seperti tersiram aspal panas, aku meleleh, lalu membeku. Sangat berbeda dari biasanya aku, yang selalu ceriwis.
Aku selalu meyakinkan diriku sendiri, bahwa ini hanyalah kekaguman, bukan cinta. Aku tak menyangka suaramu semerdu itu, bahasamu sehalus itu, sikapmu sesopan itu, kalau orang bilang, (n)Jawa-ni. Kamu terus membicarakan ini itu sambil mengulum senyum, manisss sekali. Dan aku? Jangan tanyakan bagaimana keadaanku saat itu. Bahkan keledaipun akan terlihat lebih pandai dariku. Aku terbius pesonamu.

Ritme hidupku berganti, aku tak lagi sering berpapasan denganmu, di jalan, di tangga, di depan kelas, ataupun di taman tempat kamu biasa duduk. Kamu seperti hilang di telan bumi. Namun aku masih bisa merasakan denyut kehidupanmu. Lagi-lagi karena temanku yang juga sahabatmu itu, tiada henti dia bercerita tentangmu. Kamu yang suka ini, kamu yang suka itu. Kamu yang benci ini kamu yang benci itu. Kamu yang tadi begini, kamu yang tadi begitu. Sudah seperti diary hidupmu saja. Membuatku semakin hafal semua tentangmu.

“Cinta yang ku pendam
Tak sempat aku nyatakan
Karena kau t’lah memilih
Menutup pintu hatimu”

Dari temanku itu pula aku tahu, gadis mana saja yang sedang mengambil hatimu. Dan anehnya, tidak ada sedikitpun rasa cemburu. Tak seperti terakhir saat aku patah hati, depresi, murung, banyak melamun, dan labil. Ah, aku berlebihan.
Tapi denganmu beda, kamu tau? Bukan karena hatiku tidak berdebar-debar saat sebentar saja aku melihatmu. Bukan, bukan itu. Jantungku seperti ingin meloncat, aku berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil mendapatkan mainan baru, garis bibirku tertarik tanpa sebab, menyunggingkan senyum, reflek aku memeluk apa saja yang bisa aku peluk, saking bahagianya. Aku ingin semua yang ada di sekitarku merasakan aroma bahagiamu juga. Kamu selalu sukses menaikkan moodku ke level tertinggi. Dopping. Namun entah mengapa aku tak berhasrat memilikimu. Kamu-dekat-namun-tak-terjangkau. Hanya cukup untuk dikagumi. Titik.

Terakhir aku dengar gadismu baru. Cantik. Ah, semakin kecil saja aku di matamu. Tapi tak mengapa, bukankah dari awal sudah aku tekadkan, aku hanya mengagumimu? Melihatmu saja aku sudah senang, apalagi mendapat sepotong senyummu itu, membuatku melayang.

“Ijinkan aku membuktikan
Inilah kesungguhan rasa
Ijinkan aku menyayangimu

Sayangku, ohhh…
dengarkanlah isi hatiku
Cintaku, ohhh…
dengarkanlah isi hatiku

Aku sayang padamu….
Ijinkan aku membuktikan….”

Seiring berakhirnya lagu itu diputar, aku kembali tersadar dari lamunanku tentangmu.

Dulu aku berfikir, kamu itu, dekat-namun-tak-terjangkau, hanya cukup untuk dikagumi. Sepertinya saat ini aku harus merevisi kata-kata itu, menjadi: kamu-dekat-dan-terjangkau-dalam-batasan-tertentu. Kalau kata orang Bule, one step closer.

Awalnya aku sudah ingin menyerah saja untuk mengharapkanmu, hingga suatu kali, aku melihat namamu mengisi inbox di handphoneku untuk pertama kalinya. Membuatku melayang. Pesan yang sangat biasa, walaupun tidak singkat. Hanya undangan seminar kelulusanmu. Harusnya kamu tak melakukan ini, jika tak ingin memberi harapan kepadaku dan merusak perasaan gadismu. Mungkin ini hal biasa bagimu, namun, gadis mana yang tak bahagia mendapatkan itu? Apalagi jika tau hanya dirinyalah yang mendapat undangan langsung.

Mulai saat itu, kau dan aku, kita, menjadi lebih dekat. Dekat dalam konteks yang lagi-lagi berbeda dengan definisi orang lain. Yang aku katakan dekat di sini, hanyalah kita yang mengobrol langsung, lebih lama dan dua arah. Tak banyak kata-kata yang kamu ucapkan dalam setiap obrolan kita. Selain kamu yang memang pendiam, juga karena aku yang entah mengapa kehilangan setiap kataku jika berhadapan denganmu. Salting, salah tingkah. Namun percayalah, semua perkataanmu terpatri dan melekat erat di dalam otakku, detil, tak terlewatkan.

Kau tak hanya inti, dimana kau selalu menarikku untuk mendekat, karena ada dan tak ada wujudmu pun, aku tetap selalu memikirkanmu, tertarik padamu.

Kisahmu bagiku, seperti potongan-potongan film yang tiada berujung. Entah butuh berapa juta roll film saja untuk mengisahkan kisah hidupku tentangmu. Hmmm… kalau tiga setengah tahun masih bisa dibilang sebentar, tak membuat kau tak memiliki cerita tersendiri dalam hidupku. Kau, sumber inspirasiku. Karenamu, aku selalu bersemangat mengerjakan tugas akhirku agar dapat berwisuda bersama denganmu. Jika aku merasa lelah, aku ingat untuk dapat memakai toga bersamamu. Jika aku merasa malas, aku ingat akan bersama-sama duduk di podium bersamamu di hari kelulusan kita nanti. Jika aku ingin menyerah, aku selalu ingat kau yang pandai, dan aku akan malu jika tak mampu mengimbangimu saat nama kita sama-sama tertera di dalam buku alumni. September, empat bulan lagi! 

(sebuah catatan untuk AAYB, dalam Swaragama Writing Competition “soundtrack of your life”)

Curug merupakan sebutan orang-orang jawa untuk sebuah air terjun. Curug Silawe terletak di kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Berada di ketinggian +- 1500 mdpl.
Walaupun curug ini cukup dekat dengan tempat tinggalku, namun aku baru dua kali ke sana, pertama saat aku masih SD dan yang kedua dua minggu yang lalu (akhir Februari 2011). Medan untuk mencapai tempat tersebut belum banyak berubah walapun sudah memperlihatkan perubahan dan perbaikan. Jalan yang sempit dan berkelok curam untuk menjangkau loket, membuatku yang sering dikatakan sebagai seorang “pembalap” ini saja menjadi kedher. Bagaimana tidak, kemiringan jalan yang dilalui bisa mencapai lebih dari 45 derajad dan yang lebih parahnya lagi, tikungannyapun hampir 180 derajad dan bagian bawahnya jurang. Fiuhhhh…..
Namun dengan sedikit kemampuanku dalam mengarungi medan terjal, akhirnya aku bisa sampai loket dengan selamat, walaupun temenku sebut saja M, mimid,harus turun 😀
Setelah membayar loket seharga Rp. 2000.- per orang dan parkir Rp. 1000,- untuk sepeda motor, akhirnya kami bisa melewati loket tersebut. Namun ternyata perjuangan belum berakhir, jalan masih panjang kawans! Curug belum terlihat. Untuk melihat keindahan curug silawe, masih harus berjalan melewati anak2 tangga yang ada, untung jalan tidak begitu licin, sehingga tidak terlalu melelahkan. Setelah jalan 5 menit, akhirnya suara gemericik air mulai terdengar, dan Subhanallah….. segar… indahnya ciptaanMu ya Allah.
View full article »

Catatan Seorang anak ngGunung

Sejak lahir, aku hidup di dataran tinggi, tepatnya di kaki gunung Sumbing. Di sebuah kota kecil nan indah permai bernama MAGELANG. Konon katanya, diberi nama Magelang karena kotaku ini dikelilingi oleh gunung dan bukit yang jika dilihat dari udara berbentuk seperti gelang. Ga percaya?? Buktiin aja sendiri. Tak salah jika udara di Magelang sangatlah sejuk dan membuat orang malas menyentuh air, mandi.
Namun, karena sudah sangat terbiasanya saya dengan tempat ini, saya jadi tidak menyadari betapa indahnya kampung halaman saya selama ini. Dan saya baru menyadarinya setelah saya lama merantau ke Solo yang panas dan cukup semrawut, membuat saya selalu kangen dengan Magelang, walaupun rumah saya selalu dikatakan nDeso, namun keindahannya tak akan tergantikan .
*backsound Ipank – pelangi dan matahari*
View full article »

sewaktu aku di perantauan

Mereka….
Orang2 yang menemani hari-hariku di perantauan

Ketika kita hidup di perantauan, dimana tidak ada sanak keluarga ataupun orang-orang yang kita kenal, maka disitulah kita akan menemukan orang-orang baru yang akan menjadi keluarga kita, dimana sebagian besar orang-orang perantau yang mempunyai nasib yang sama akhirnya bersatu untuk menghalau kesepian, tempat bercanda berkeluh kesah, serta berbagi semua hal yang biasanya kita lakukan bersama keluarga atau sahabat2 di rumah.
Selama tiga tahun lebih aku di perantauan, banyak sudah keluarga baru yang selalu menemani hari-hariku, baik secara langsung ataupun tidak langsung…
1. Noventi’ers
Warga Kost noventi a.k.a Noventi’ers View full article »

artikel ini diperoleh dari blog rekan saya mas aviv,
ga perlu pake basabasi deh, langsung saja saya comotkan langsung *dengan seijin pemiliknya tentunya* langsung aja dibaca yah, semoga bermanfaat 🙂

VPN merupakan salah satu bentuk dari kemajuan teknologi yang memanfaatkan jaringan komputer sebagai medianya. Memberikan layanan berbasis IP ke end user sebagai solusi komunikasi data. Dapat menghubungkan dua komputer yang melewati jaringan publik semisal internet seolah-olah terhubung secara point to point.

VPN dapat terhubung dengan menggunakan teknologi tunneling dan encryption yang di dasarkan pada suatu proses akses secara remote yang digunakan untuk mendapatkan koneksi jaringan dengan maksud dan tujuan yang telah di tentukan. Koneksi tersebut dapat terjadi di semua lapisan OSI layer dan dapat di gunakan disemua media. koneksi VPN akan membentuk suatu private link yang menuju ke jaringan local melalui jaringan publik internet sehingga kita dapat langsung mengakses data yang di perlukan dimana saja.
View full article »

sekarang ini internet bukanlah suatu hal yang luar biasa, apalagi bagi para mahasiswa dengan tuntutan tugas-tugas yang menumpuk dan minimnya hiburan, terutama bagi mahasiswa yang nge-kost. saat ini hampir sebagian besar mahasiswa telah memiliki koneksi internet sendiri di rumah atau kost mereka, sisa lainnya mengandalkan koneksi gratisan dari kampus berupa hotspot.
online dan berselancar di dunia maya sudah menjadi hal yang lumrah bagi kalangan mahasiswa untuk mengusir stress di sela-sela tugas mereka. seperti halnya saya yang mengalami nasib serupa dengan mahasiswa-mahasiswa lain, di kost yang minim fasilitas umum seperti televisi, sehingga menjadikan internet sebagai salah satu media hiburan selain radio yang selalu stand by.
satu televisi untuk seluruh warga kost bukanlah suatu yang menyenangkan. alih-alih memperoleh hiburan dengan menonton acara kesayangan, yang ada malah makan ati kalau tontonan yang diinginkan berbeda-beda dari tiap anak kost.
dan akhirnya saya menemukan solusinya, streaming televisi!!!! View full article »